Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
  • PORTAL KATINGAN
blog-img-10

Posted by : Bidang PKP Kominfo

MBG Buka Peluang Baru, Pedagang Ikan Katingan Siap Jadi Penopang Gizi dan Ekonomi Lokal

Portal Katingan - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai digulirkan pemerintah membawa harapan baru bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya penjual dan pembudidaya ikan air tawar di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Di Pasar Kasongan hingga Kereng Pangi, aktivitas penjualan ikan sudah dimulai sejak dini hari. Berbagai jenis ikan lokal seperti baung, patin, gabus, hingga saluang tersaji segar, menjadi potensi besar untuk mendukung kebutuhan protein hewani dalam program MBG.

Ibu Mariyanti (37), pedagang ikan yang telah berjualan selama lima tahun dan kini menjadi pemasok untuk dapur MBG di SPPG Katingan Hilir Kasongan Lama, mengaku optimistis dengan peluang ini.

“Sekarang ada harapan baru. Kalau bisa terus menyuplai ke MBG, penghasilan kami pasti lebih stabil,” ujarnya.

Potensi Lokal untuk Gizi Anak

Kabupaten Katingan memiliki potensi perikanan yang besar, didukung oleh bentang Sungai Katingan sepanjang sekitar 650 kilometer. Produksi ikan air tawar yang mencapai ribuan ton per tahun menjadi kekuatan utama dalam mendukung kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak sekolah.

Ikan lokal seperti patin dikenal kaya protein dan omega-3, sehingga sangat sesuai untuk mendukung program peningkatan gizi melalui MBG.

Pemerintah daerah pun mendorong pemanfaatan bahan baku lokal agar distribusi lebih efisien dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

“Kita ingin MBG menggunakan bahan lokal. Selain segar dan terjangkau, ini juga menggerakkan ekonomi daerah,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Katingan, Budi Santoso.

Saat ini, puluhan pelaku UMKM dan kelompok pembudidaya ikan mulai didata untuk menjadi mitra penyedia bahan baku MBG di beberapa kecamatan.

UMKM Mulai Berbenah

Untuk memenuhi standar program MBG, pelaku usaha mulai melakukan berbagai penyesuaian. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas penanganan pasca-panen, pengolahan ikan, hingga sistem penyimpanan.

Kelompok usaha “Berkat Katingan” di Desa Hampalit, misalnya, mulai melatih anggotanya dalam teknik fillet dan pengemasan beku agar produk lebih higienis dan tahan lama.

“Kami juga mulai mengajukan bantuan freezer agar bisa memenuhi standar rantai dingin,” kata Siti, ketua kelompok.

Langkah ini menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya meningkatkan permintaan, tetapi juga mendorong profesionalisasi usaha kecil di sektor perikanan.

Tantangan dan Dukungan

Meski peluang terbuka lebar, sejumlah tantangan masih dihadapi pelaku UMKM, seperti keterbatasan modal, kebutuhan fasilitas penyimpanan dingin, hingga pemenuhan standar sertifikasi seperti halal dan PIRT.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah daerah melalui dinas terkait berkomitmen memberikan dukungan, mulai dari pelatihan hingga akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dampak Ekonomi Berantai

Bupati Katingan menegaskan bahwa program MBG tidak hanya bertujuan meningkatkan gizi anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas.

“Satu porsi MBG bisa menghidupi banyak pihak, dari nelayan, pedagang ikan, hingga dapur umum. Ini ekonomi yang berputar di daerah kita,” ujarnya.

Jika berjalan optimal, program ini tidak hanya menjadikan ikan lokal sebagai sumber gizi utama bagi ribuan siswa, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi berbasis potensi lokal.

Dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha, ikan dari Sungai Katingan kini tidak hanya menjadi konsumsi harian masyarakat, tetapi juga bagian dari solusi gizi dan kesejahteraan di Bumi Penyang Hinje Simpei.