Dari Pedagang Kecil ke Mitra Program MBG, Kisah Ibu Penjual Buah yang Usahanya Tumbuh Bersama Ketahanan Pangan
Portal Katingan - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi anak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha kecil di daerah. Salah satu contohnya terlihat dari kisah seorang ibu penjual sayur dan buah yang kini mampu mengembangkan usahanya setelah terlibat dalam rantai pasok program tersebut.
Awalnya, usaha yang dijalankan masih berskala kecil dan bergantung pada permintaan pasar yang tidak menentu. Namun, sejak mendapatkan pesanan buah dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di desanya, ia mulai menyesuaikan usahanya dengan kebutuhan dapur MBG.
Langkah tersebut menjadi titik balik. Ia mulai memperhatikan kualitas produk, kebersihan, hingga cara pengemasan agar sesuai standar kebutuhan program. Upaya ini membuahkan hasil, hingga akhirnya ia dipercaya memasok ke beberapa dapur MBG lainnya.
“Dulu jualan hanya menunggu pembeli. Sekarang sudah ada kepastian permintaan, jadi lebih berani menambah stok dan memperbaiki kualitas,” ungkapnya.
Kehadiran program MBG memberikan kepastian pasar yang selama ini menjadi tantangan utama bagi pedagang kecil. Jika sebelumnya harga dan permintaan sering fluktuatif, kini ada pola serapan yang lebih stabil, sehingga pelaku usaha dapat merencanakan usaha dengan lebih baik.
Tidak hanya itu, ia juga mulai menjalin kerja sama dengan petani lokal untuk memastikan ketersediaan sayur dan buah yang segar. Hal ini secara tidak langsung memperkuat rantai pasok pangan di tingkat daerah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pedagang kecil tidak lagi hanya menjadi pelaku ekonomi informal, tetapi mulai menjadi bagian penting dalam sistem ketahanan pangan.
Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk program MBG juga membuka peluang kerja baru, terutama di sektor pertanian dan perdagangan. Permintaan yang terus meningkat mendorong petani untuk meningkatkan produksi, sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.
Selain pedagang dan petani, peluang usaha juga terbuka di sektor lain seperti distribusi bahan pangan, jasa logistik, hingga pengelolaan dapur umum. Hal ini menciptakan efek berantai yang mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Program MBG juga mendorong terbentuknya sistem distribusi pangan yang lebih terorganisir. Pemerintah dan pelaku usaha dituntut untuk membangun rantai logistik yang efisien agar bahan pangan dapat tersalurkan dengan baik dan tepat waktu.
Bagi pelaku usaha seperti ibu penjual buah tersebut, program ini bukan hanya soal peningkatan pendapatan, tetapi juga menjadi jalan menuju usaha yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Ia pun berharap program ini dapat terus berjalan, karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.
“Bukan hanya anak-anak yang sehat, tapi kami juga bisa berkembang,” ujarnya.
Dengan keterlibatan pelaku usaha lokal, petani, dan berbagai sektor pendukung lainnya, program MBG dinilai tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi, tetapi juga motor penggerak ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.


















.jpeg)

.jpeg)




