Bawang Merah Lokal Ikut Terserap MBG, UMKM dan Petani Katingan Dapat Pasar Baru
Portal Katingan - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyerap bahan pangan utama, tetapi juga membuka peluang besar bagi pelaku UMKM bumbu dapur, termasuk penjual dan petani bawang merah di Kabupaten Katingan.
Di Pasar Kasongan, aktivitas perdagangan bawang merah mulai menunjukkan geliat baru. Aroma khas bawang yang memenuhi kios-kios bumbu kini menjadi simbol harapan baru bagi pelaku usaha lokal.
Ibu Yanti (37), pelaku UMKM bawang merah di Kelurahan Kasongan Lama, mengaku mulai merasakan dampak dari program MBG. Setiap hari, ia mengupas sekitar 5 hingga 10 kilogram bawang merah untuk disuplai ke dapur SPPG Katingan Hilir Kasongan Lama.
“Kalau MBG jalan tiap hari, kami tidak khawatir lagi bawang tidak laku. Masakan apa pun pasti butuh bawang merah,” ujarnya.
Kebutuhan Bumbu Tinggi, UMKM Disiapkan
Program MBG yang menyasar ribuan siswa membutuhkan bahan bumbu dasar dalam jumlah rutin, seperti bawang merah, bawang putih, dan rempah lainnya. Kebutuhan bawang merah saja diperkirakan bisa mencapai 10 hingga 20 kilogram per hari, seiring bertambahnya cakupan penerima manfaat.
Melihat potensi tersebut, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Katingan mulai mendata puluhan pelaku UMKM bumbu serta kelompok tani bawang merah untuk dilibatkan sebagai pemasok.
“Kami ingin MBG menggunakan produk lokal. Selain menjaga kualitas, ini juga memastikan uang berputar di daerah,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Katingan, Budi Santoso.
Tantangan Harga dan Pasokan
Meski peluang terbuka, pelaku UMKM masih menghadapi tantangan, terutama fluktuasi harga dan ketersediaan pasokan bawang merah sepanjang tahun.
Rohana, salah satu pedagang, mengungkapkan bahwa lonjakan harga sering menjadi kendala.
“Kalau harga masih sekitar Rp25 ribu per kilo masih aman, tapi kalau sampai Rp50 ribu lebih, kami sulit bertahan,” katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Pertanian mendorong pola tanam bergilir serta pembangunan fasilitas penyimpanan sederhana agar hasil panen dapat diserap secara optimal dan harga tetap stabil.
Selain itu, pendampingan budidaya bawang merah di lahan lokal juga terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas.
Harapan Jadi Pasar Tetap
Bagi petani, program MBG diharapkan menjadi pasar tetap (offtaker) yang memberikan kepastian penyerapan hasil panen.
“Kalau ada kontrak pembelian yang jelas, kami berani tanam lebih banyak. Tidak khawatir harga jatuh saat panen,” ujar Jumadi, salah satu petani bawang.
Jika kemitraan ini berjalan optimal, bawang merah Katingan tidak hanya menjadi pelengkap dapur rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menu bergizi bagi ribuan siswa.
Lebih dari itu, keterlibatan UMKM dan petani dalam program MBG menunjukkan bahwa intervensi gizi dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi lokal.
Program ini pun diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi berbasis potensi daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha kecil di Bumi Penyang Hinje Simpei.

















.jpeg)

.jpeg)





