Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
  • PORTAL KATINGAN
blog-img-10

Posted by : Bidang PKP Kominfo

Antisipasi Karhutla 2026, Pemkab Katingan Tekankan Kesiapan Nyata dan Akurasi Data di Lapangan

Portal Katingan - Pemerintah Kabupaten Katingan mulai memperkuat langkah antisipatif menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026 yang diprediksi lebih berisiko akibat musim kemarau panjang. Hal ini mengemuka dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah Katingan, Christian Rain, di Ruang Rapat Bupati, Selasa (28/4/2026).

Rapat tersebut tidak hanya membahas kesiapan teknis, tetapi juga menekankan pentingnya perubahan pendekatan dalam penanganan karhutla, mulai dari akurasi data, kecepatan respons, hingga kesiapan nyata di lapangan.

Berdasarkan paparan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, antara lima hingga enam bulan, dengan puncak pada Juli hingga Agustus. Kondisi ini diperparah oleh potensi pengaruh El Nino yang dapat menurunkan curah hujan dan meningkatkan suhu udara secara signifikan.

Wilayah seperti Katingan Kuala, Mendawai, dan Kamipang menjadi perhatian utama karena karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Meski hingga April masih relatif aman dari titik panas, kondisi ini dinilai sebagai “fase tenang sebelum risiko meningkat”.

Sekda Christian Rain menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya bersifat administratif atau seremonial, tetapi harus benar-benar berbasis kondisi riil di lapangan.

“Jangan sampai kita terlihat siap di atas kertas, tapi di lapangan belum siap. Yang kita butuhkan adalah kesiapan nyata, bukan sekadar kegiatan formal,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kualitas data dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, selama ini data sering kali hanya disajikan dalam bentuk angka tanpa visualisasi yang memadai, sehingga sulit dipahami secara menyeluruh.

Christian mendorong agar data dilengkapi dengan peta sebaran hotspot, arah angin, hingga dinamika cuaca regional agar analisis menjadi lebih komprehensif dan tidak menimbulkan kesalahan kebijakan.

Selain itu, ia mengingatkan agar seluruh pihak memahami perbedaan antara hotspot dan fire spot. Kesalahan dalam membaca data ini dapat berakibat pada keputusan yang tidak tepat, termasuk dalam penetapan status siaga atau darurat.

“Tidak semua hotspot itu kebakaran. Kita harus pastikan dulu tingkat kepercayaannya sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sekda menekankan pentingnya sinkronisasi data antarinstansi, baik di tingkat daerah, provinsi, maupun pusat. Perbedaan data dinilai dapat menghambat koordinasi saat terjadi bencana.

Di sisi lain, faktor cuaca seperti kelembapan udara, suhu, dan arah angin juga menjadi indikator utama yang harus diwaspadai. Perubahan arah angin dari selatan, misalnya, dapat menjadi sinyal meningkatnya potensi kekeringan dan risiko kebakaran.

Dalam konteks pencegahan, pemerintah juga menekankan bahwa tidak semua kebakaran dapat dikategorikan sebagai bencana, terutama jika disebabkan oleh kelalaian manusia. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat serta pengawasan di lapangan menjadi langkah penting yang harus diperkuat.

Rapat ini juga menghasilkan kesepakatan untuk melakukan pemantauan intensif dalam 10 hari ke depan guna melihat perkembangan kondisi cuaca sebelum mengambil keputusan terkait status siaga darurat.

Melalui langkah ini, Pemkab Katingan ingin memastikan bahwa penanganan karhutla tidak lagi bersifat reaktif, tetapi lebih pada pencegahan berbasis data dan kesiapan lintas sektor.

Dengan sinergi antara pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat, potensi karhutla diharapkan dapat ditekan sejak dini, sehingga dampak terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat dapat diminimalkan.