Program MBG Dorong Pertumbuhan Supplier Bahan Baku Kering di Katingan
Portal Katingan - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mulai menggerakkan roda ekonomi pelaku usaha di sektor hulu. Di Kabupaten Katingan, para supplier bahan baku kering mengaku merasakan manfaat nyata dari meningkatnya kebutuhan distribusi program yang berjalan secara rutin.
Komoditas seperti minyak goreng, gula, garam, tepung, hingga berbagai bumbu dapur kini mengalami peningkatan permintaan sejak program MBG berjalan di SPPG Katingan, Kecamatan Katingan Hilir. Kebutuhan pasokan yang stabil dinilai memberikan kepastian usaha bagi para supplier yang sebelumnya bergantung pada pasar tradisional dan permintaan musiman.
Salah satu supplier bahan baku kering di Katingan mengatakan program MBG telah mengubah pola usaha mereka menjadi lebih terukur dan terencana. Adanya kontrak pasokan membuat distribusi barang berjalan lebih pasti dan membantu menjaga kesinambungan usaha.
“Sekarang permintaan lebih jelas. Kami bisa mengatur stok dan distribusi tanpa takut barang terlalu lama menumpuk di gudang,” ujarnya.
Bahan baku kering dinilai memiliki keunggulan tersendiri dalam mendukung program MBG karena daya simpannya relatif lebih lama dibanding bahan pangan segar. Kondisi ini memudahkan supplier dalam pengelolaan logistik, menekan risiko kerusakan barang, serta meningkatkan efisiensi usaha.
Selain meningkatkan omzet, program MBG juga mendorong perubahan pada standar usaha para supplier. Mereka kini dituntut menjaga kualitas produk, mulai dari kebersihan, keamanan pangan, kejelasan masa kedaluwarsa, hingga memastikan produk yang disuplai memiliki legalitas dan standar halal yang jelas.
Peningkatan standar tersebut dinilai membawa dampak positif, tidak hanya untuk kebutuhan program MBG, tetapi juga terhadap kualitas produk yang beredar di pasar umum. Supplier mulai membenahi sistem pencatatan, pengemasan, dan distribusi agar lebih profesional.
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas distribusi turut membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekitar. Kebutuhan tenaga tambahan untuk proses pengemasan, penyortiran, dan pengiriman barang meningkat seiring bertambahnya volume pasokan.
Program MBG juga dinilai membantu pelaku usaha dalam menyusun perencanaan bisnis yang lebih stabil. Dengan jadwal pengadaan yang relatif tetap, supplier dapat mengatur pembelian bahan mentah dan perputaran modal secara lebih efisien.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama dalam menjaga konsistensi kualitas saat permintaan meningkat dalam jumlah besar. Selain itu, supplier juga dituntut menyesuaikan diri dengan sistem administrasi dan pelaporan yang lebih tertib.
Namun, tantangan tersebut justru dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kapasitas usaha. Banyak supplier mulai bertransformasi dari pola usaha tradisional menuju sistem usaha yang lebih modern dan terorganisir.
Keterlibatan supplier bahan baku kering dalam program MBG juga memperluas jaringan pasar mereka. Melalui program ini, pelaku usaha memiliki kesempatan membangun kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari UMKM pengolah makanan, lembaga pendidikan, hingga distributor yang lebih besar.
Para supplier berharap program MBG dapat terus berjalan secara konsisten dengan sistem pengadaan dan pembayaran yang transparan. Mereka juga menginginkan dukungan berupa pelatihan usaha, akses permodalan, dan penguatan distribusi agar manfaat ekonomi yang dirasakan dapat semakin luas.
Program MBG pada akhirnya dinilai tidak hanya menjadi solusi pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah dari sektor hulu hingga hilir. Jika dikelola secara berkelanjutan, program ini berpotensi menciptakan ekosistem pangan lokal yang lebih kuat, stabil, dan mampu mendorong pertumbuhan usaha masyarakat secara inklusif.





















_(1).png)




